Beli Jualan Teman Ternyata Dongkrak Ekonomi Nasional

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Pandemi Covid-19 di Indonesia menyebabkan krisis ekonomi yang bisa dibilang lebih parah dari tahun 1997-1998. Kali ini krisis menghantam semua sektor. Pelaku UMKM yang dulu menjadi tulang punggung ekonomi nasional, sekarang mereka turut terkapar.

Banyak negara sudah mengumumkan jatuh resesi. Tidak main-main ada Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, lalu di kawasan ASEAN ada Singapura dan Filipina terjerat resesi.

Bagaimana dengan Indonesia? Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 terkontraksi -5,32 persen pada awal Agustus. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan jika pada kuartal III 2020 ekonomi kita kembali minus maka diduga kuat Indonesia ikut terjun ke resesi. 

Baca Juga: Apa Mungkin Pekerja Freelance Punya Apartemen Idaman?

Sayangnya, kali ini pelaku UMKM tidak bisa membantu perekonomian nasional. Covid-19 membuat semua golongan industri terdampak karena daya beli masyarakat secara umum turun. Secara sederhana bisa dikatakan, masyarakat tidak hanya mundur dari tawaran rumah atau kendaraan baru tetapi juga berpikir ulang hanya untuk jajan.

Sampai saat ini kita belum masuk resesi karena punya penduduk yang banyak dengan mayoritas berpenghasilan menengah. Dua potensi ini menjadi tulang punggung perekonomian karena di antara mereka terjadi perdagangan domestik. Sehingga ekonomi kita tetap berputar.

Itulah mengapa Presiden Joko Widodo mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk membeli produk-produk dalam negeri. Mendorong transaksi domestik di saat aktifitas ekonomi global mengalami krisis. “Kita harus bangga terhadap produk Indonesia. Kita harus membeli produk dalam negeri,” kata Presiden saat pidato sidang tahunan MPR, Jumat, 14 Agustus 2020.  

Keponakan yang baru saja lulus dari NAFA, Nicky, mulai berkarya di tanah air
dengan membawa brand @Genzgranny.

Bentuk konkretnya adalah membeli jualan teman. Jamak kita ketahui bersama, selama pandemi covid-19 banyak di antara kita beralih profesi. Ada yang buka usaha makanan, tanaman hias, ikan hias, pakaian, dan lain sebagainya. Mereka ini menambah daftar teman kita yang memang sejak awal bergerak di UMKM.

Saya perhatikan, tren ini mulai muncul di awal pandemi. Sekitar Maret 2020, banyak teman-teman saya mencoba menawarkan produk dagangannya. Yang sehari-hari sibuk ngantor, tetiba jadi mahir membuat kue karena dirumahkan. Semakin ke sini, semakin banyak teman yang punya jualan. Tidak hanya sebagai sambilan, tetapi sudah menjadi profesinya pasca terdampak pandemi.

Tren yang berjalan sekitar 6 bulan ini, nyatanya memberikan dampak pada ekonomi nasional. Buktinya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui bahwa tren membeli jualan teman, memang memberikan kontribusi. “Kita melihat bahwa program beli jualan teman ini sedikit-banyak akan bisa memberikan kontribusi terhadap perekonomian, khususnya perekonomian lokal,” kata Agus ketika ditemui detikcom usai menghadiri rapat kerja (Raker) dengan Komisi VI DPR RI, di Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2020.  

Menurut Agus, pada akhirnya gerakan #belijualanteman ini akan memberikan kontribusi pada perekonomian nasional. “Tentu nanti pada gilirannya akan bisa membantu, atau memberikan kontribusi kepada perekonomian nasional secara umum. Jadi beli jualan teman.”

Koleganya, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan hal yang sama. Ia tak segan mengajak masyarakat Indonesia untuk beli jualan teman. Menurut Agus, gerakan itu sama dengan dukungan kepada produk dalam negeri.

“Jadi saling menginformasikan antar-teman bahwa kita ini harus membeli produk-produk dalam negeri,” tutur Agus pada kesempatan yang sama.

Ada banyak hobby yang dianugerahkan kepada saya. Beberapa di antaranya sudah menghasilkan. Kini, lewat berkebun saya coba perlahan mau menawarkan produk tanaman hias yang siap pajang. Seperti di foto, awalnya tanaman ini lusuh dengan pot polybag. Kini tampkah cantik dan ganteng
untuk mejeng di salah satu pojokan rumah.

Pengalaman Beli Jualan Teman

Saya sendiri sudah cukup lama mempraktikkan hal ini. Contohnya membeli jualan sepupu yang jual makanan Palembang, yakni @pempekbangau.id. Juga membeli usaha keponakan yang bergerak di dunia fashion yakni @patriciaandriani.official dan @genzgranny. Uniknya, mereka berdua lulusan fashion design di Nanyang Academy of Fine Arts, Singapura. Jadi, gak kaleng-kaleng, ya!

Lebih lanjut, karena isteri dan saya kerap berinteraksi dengan wartawan maka kami juga turut membeli jualan wartawan, seperti @kv.bakeshop @aqra.tea @polivenol_roastery. Tidak berhenti di situ, juga ada rekomendasi dari orang yang lain yang kami beli seperti @mirano.id @nasiliwetaslisolo @dapoerganemo dan masih banyak lagi lainnya termasuk yang tidak memasukkan katalog produknya di media sosial.

Kakak ipar saya, Cynthia Iskandar bahkan lebih banyak lagi yang dibeli. Baginya, membeli jualan teman adalah sekaligus ajang silahturahmi. Didukung oleh dua anaknya yang memang suka jajan. Jadi ketimbang ngeluarin uang ke orang lain, mending dialihkan ke saudara dan teman-teman.

Tapiiiiii…hati-hati ya, tidak semua aksi beli jualan teman ini berkelanjutan. Berdasarkan pengalaman, motivasi membeli jualan teman ada dua. Pertama, karena kasihan atau niat menolong. Kedua, karena memang tertarik membeli sesuai dengan kebutuhan. Namun keduanya bisa sama-sama berkelanjutan. Artinya, kita beli lagi dan lagi.

Nah, kuncinya adalah produk yang kita beli memang berkualitas. Kalau makanan, ya dari rasa enak, penampilan juga diperhatian, dan terlebih pengemasan. Kenapa yang terakhir penting? Ingat, saat ini isunya adalah pandemi, jadi faktor kesehatan dikedepankan. Sebagai contoh, saya beli roti korea dari @kv.bakeshop. Kemasannya sangat rapat dan rapi. Bahkan menggunakan plastik daur ulang. Ini menjadi faktor penting untuk membeli lagi, terlebih memang rasa rotinya enak. Jika itu pakaian, maka modelnya bagus, jahitan rapi, kekinian, inovatif, dan terkadang memberikan penawaran terbaik. Kunci lainnya adalah pemilik usaha fast response, sabar atau telaten, dan ramah.

Ponakan lainnya, Patricia Andriani yang juga lulusan NAFA, sejak 2016 lalu mengeluarkan brand sendiri @patriciaandriani.official untuk lini fashion dengan karakteristik wastra nasional. Membuat warisan budaya kita menjadi kekinian.

Ada juga aktifitas beli jualan berhenti. Baik itu motivasi menolong atau memang niat beli. Faktor utama kenapa berhenti karena produk yang ditawarkan kalah bersaing. Hal ini diperparah ketika diberikan feed back, tetapi tidak terima.

Setelah punya banyak pengalaman membeli jualan teman, sejak sebulan terkahir saya mencoba berjualan, hahahaha… Saudara dan teman saya di atas, berjualan berdasarkan apa yang mereka sukai. Suka masak ya jual makanan. Suka jahit dan desain ya masuk ke dunia fashion. Nah, kalau saya sudah menjual jasa menulis, foto, video dan desain, sekarang menjual kesenangan saya yang lain yakni berkebun.

Latar belakangnya adalah banyak di antara saudara dan teman yang mendadak jadi “tukang kebun.” Saya mulai dari membuka jasa titip (jastip) tanaman hias untuk saudara dan teman di Jakarta. Saya lebih dekat dengan tukang tanaman, karena kami kalau weekend pulang ke rumah kami di Bogor. Saya hanya ambil uang transport saja dari setiap jastim. Keuntungan buat saya adalah relasi, mendapat potongan harga saat beli tanaman untuk saya sendiri, dan semacam investasi ke depan jika saya buka jasa penjualan tanaman hias.

Jadi, jangan ragu ya untuk ikut tren beli jualan teman. Siapa lagi yang akan menyelamatkan ekonomi bangsa kita, kalau bukan kita sendiri. Masak iya, mau minta bantuan AS atau Tiongkok!? Tar didemo lagi hehehe.. Ya daripada dema-demo, nuntut ini dan itu, mending buat langkah kecil yang konkret, “Beli Jualan Saya, eh Teman!”

Facebooktwitterby feather
wawan
Tanpa rokok, kopi saya menenteramkan nalar dan hati. Sembari terus menggulat di bidang komunikasi. Dulu menulis, lalu belajar fotografi dan kini bermain dengan videografi. Semua dijalani karena panggilan dan semangat berbagi. Terima kasih untuk atensinya, Tuhan memberkati.
https://www.onetimes.id

Leave a Reply

Top