Gerebek Sekeluarga Karena Penasaran Menu Bavarian Haus

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Sudah 5 bulan kami taat untuk tidak bepergian, kecuali untuk keperluan dapur dan pekerjaan. Namun akhirnya di era new normal kami meregangkan kaki ke Puncak. Salah satu tujuannya kuliner di Bavarian Haus Bratwurst ‘n Grill.

Kami mencoba mengikuti protokol kesehatan. Caranya adalah dengan selalu menggunakan masker, mencuci tangan/ menggunakan hand sanitizer setelah memegang sesuatu terlebih uang, dan menjaga jarak yakni pergi di weekdays.

Hari itu, 7 Juli 2020, kami bertolak dari Jakarta ke Puncak. Tujuan pertama kami adalah hunting tanaman hias. Maklum musim pandemi kami banyak terbenam dalam hobi berkebun. Saya sendiri yang dari dulu suka bercocok tanam, semakin semangat karena saudara dan teman ikutan hoby yang menyegarkan ini.

Baca Juga: Resep Macaroni Schotel Warisan Oma

Baca Juga: Inilah Kuliner Legendaris Bantul Versi Pemda Bantul

Baca Juga: Ramen Ichiran, Sensasi Makan Seperti Di Perpustakaan

Ada beberapa tempat yang kami kunjungi untuk mencari tanaman hias yang menarik hati. Atau juga yang sudah lama diincar tetapi harganya gak sesuai dompet jika beli di Kota Bogor apalagi di Jakarta. Selama berinteraksi dengan penjual tanaman hias, masker tidak pernah lepas. Walaupun mereka tidak ada satu pun yang memakai masker. Ya sutralah ya, yang penting kita berjaga-jaga saja.

Setelah memenuhi bagasi sempit dengan ragam tanaman. Maklum kami bepergian dengan 6 orang, tanpa menyisakan kursi yang dilipat. Agenda selanjutnya ya makan. Perut udah teriak minta diperhatikan karena jam sudah menunjukkan pukul 14.00.

Sekitar 45 menit kemudian sampailah kami di Bavarian Haus Bratwurst ‘n Grill. Isteri saya, Sari Redjeki, sudah tahunan ingin makan di sini. Baru kali ini kesampain, kasihan ya hehehe

Restoran bergaya rumah tradisional Bavarian ini sudah beroperasi sekitar akhir 2016. Belum terlalu lama. Namun pesonanya membius banyak orang yang berwisata ke Puncak karena dekorasi yang ornamennya yang sangat megah.

Tampak dari luar kita seperti dilempar ke abad pertengahan di Bavarian, atau Negara Bagian Bayern Jerman. Di mana rumah tradisional kala itu didominasi oleh rangka kayu besar-besar dengan jendela yang banyak.

Saat masuk, bangunannya sangat tinggi dengan banyak ruang udara dan atap kaca yang membuat cahaya matahari leluasa mengisi tiap relung. Lagi-lagi, balok kayu raksana begitu terekspos dengan membiarkan guratan aslinya. Meja kayu juga dari kayu solid yang tampak elegan ketika kaki mejanya menyetuh lantai batu. Bagi saya, paduan kayu dan batu memang sangat berjodoh yang dapat diaplikasikan di mana saja, taman, outdoor, maupun indoor.

Ruang yang begitu luas dibagi sedemikian rupa untuk banyak keperluan. Ada taman indoor dengan tamanan dan bunga yang segar. Jika membawa anak-anak ada area bermain di lantai atas. Juga ada banyak ornament khas Jerman untuk berfoto termasuk area photo booth. Jika ingin tempat makan yang agak privasi tanpa gangguan asap rokok, juga ada.

Bagian central dari Bavarian Haus Bratwurst ‘n Grill ini adalah ruang kaca. Di dalamnya ada aktivitas pegawai yang mengemas sosis yang menjadi menu andalan di sini. Katanya tidak boleh mendokumentasikan aktifitas mereka, tetapi kenapa ada di tengah ruangan dengan dinding kaca? Aneh! Ruang kaca lain adalah tempat pegawai memberi barcode saucijzenbroodje atau socijs brood yang siap dijual. 

Menu Bavarian Haus

Tak perlu menunggu lama, kami langsung pesan makanan khas Jerman. Yang pertama adalah signature dish Bavarian Haus Bratwurst ‘n Grill, yakni Grill Platter for Four yang tersaji di atas talenan kayu yang besar dan berat. Di dalamnya ada different sausage, meat, sauerkraut, apple red cabbage, bavarian cabbage salad, and potato wedges.

Grill Platter for Four

Menu lain yang kami pesan, yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Jerman, adalah smoked roasted beef chuck roll, spaghetti aglio olio with smoked chicken in matah aioli, spaghetti carbonara with smoked beef, dan fresh cobb salad with smoked cheese and smoked beef. Minumnya es teh dan kopi panas. Dari pilhan bahasa dan harganya memang segmen yang ingin disasar adalah golongan menengah – atas.

Dari deretan menu kami agak kecewa karena “halal,” alias tidak ada menu babi atau campuran babi. Dengan begitu, kami tidak bisa mengharapkan bahwa sosis yang kami nanti makan akan saya dengan sosis yang pernah kami makan di Jerman atau Belanda. Umumnya, sosis dari sana memang ada campuran babinya.

smoked roasted beef chuck roll
spaghetti aglio olio with smoked chicken in matah aioli
spaghetti carbonara with smoked beef
fresh cobb salad with smoked cheese and smoked beef

Benar saja, rasanya tidak sepadan. Memang agak aneh, makan menu Eropa seperti Jerman tetapi tidak ada kandungan babinya. Ya sudah. Namun demikian, makanan yang juara di lidah kami adalah sosis sapi, ayam bakar, dan kentang goreng yang ada di Grill Platter for Four. Maka pantas disebut dengan signature dish.

Sedangkan untuk menu yang lain, bisa dibilang biasa saja. Bahkan untuk spaghetti aglio olio, kami nilai failed, dari segi rasa dan kandungan minyaknya yang sangat banyak. Ohya, kopinya enak. Saya sebagai pencinta kopi, sangat menikmati ngopi di Bavarian Haus Bratwurst ‘n Grill.

Ada banyak menu yang lain, tentunya. Semoga rasanya lebih menjanjikan. Lebih jauh, restoran yang berada di bawah Cimory Group ini, menawarkan hal lain. Tidak sekadar menu makanan, tetapi juga tempat yang sangat indah, nyaman, dan taman yang menyegarkan. Bagi kami, ini menjadi nilai tambah yang sangat tinggi.

Bisa juga sesi foto untuk produk kita, lohh 😉

Kami bisa memanfaatkan dengan baik keunggulan itu dengan foto-foto, memanjakan paru-paru, bersantai sejenak, dan foto produk. Pety mengambil kesempatan berkunjung ke Bavarian Haus Bratwurst ‘n Grill untuk mengabadikan produknya yang dijual di Instagram @patriciaandriani.official dan di beberapa ecommerce.

Tempat ini sangat direkomendasikan bagi warga Jakarta yang penat tetapi  tidak ingin menambah penat dengan kemacetan parah di Puncak. Karena Bavarian Haus Bratwurst ‘n Grill hanya berjarak sekitar 1,3 kilometer dari pintu tol Puncak-Ciawi. Kira-kira 1,5 jam dari Jakarta. Jadi tidak terlalu jauh, kan?! Mari relaksasi sebentar dengan tetap jaga kesehatan, ya. Selalu pakai masker, rajin cuci tangan, dan selalu membawa hand sanitizer.

Facebooktwitterby feather
wawan
Tanpa rokok, kopi saya menenteramkan nalar dan hati. Sembari terus menggulat di bidang komunikasi. Dulu menulis, lalu belajar fotografi dan kini bermain dengan videografi. Semua dijalani karena panggilan dan semangat berbagi. Terima kasih untuk atensinya, Tuhan memberkati.
https://www.onetimes.id

Leave a Reply

Top