Sejumput Asa Mempersatukan Indonesia dari Pesisir Utara Jawa

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Indonesia sungguh istimewa dalam kacamata dunia. Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa dan tersebar di ribuan pula, membuat negara kita mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi.

Keberagaman tersebut tidak pernah terkotak. Antarbudaya kita sendiri sudah terjalin interaksi, bahkan sejak awal kita telah membuka pintu terhadap peradaban dunia lewat perdagangan, penyebaran agama, dan lainnya.

Keberagaman budaya sejatinya menjadi tulang punggung identitas bangsa. Bahkan saat dikelola dengan baik bisa menjadi penopang perekonomian dalam bidang pariwisata. Namun demikian, tak dipungkiri culture diversity yang telah diikat oleh Bhinneka Tunggal Ika ini, justru menjadi hal paling rentan. Selalu ada saja oknum yang ingin menceraiberaikan apa yang telah padu sejak awal mula.

Baca Juga: Basilica Del Santo Nino: Simbol Katolisitas Dan Harapan Warga Filipina

Potensi besar bangsa kita ini harus dijaga dan dirawat oleh semua elemen. Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), wakil pemerintah yang mengelola kegiatan usaha hulu migas, memandang perlunya melibatkan dunia usaha dan masyarakat untuk terus membangun aset terbesar negara ini. Budaya sebagai pintu masuk untuk memperkuat persatuan bangsa, melestarikan warisan leluhur, meningkatkan perekonomian masyarakat, merawat kelestarian lingkungan, dan mempertebal rasa percaya diri sebagai bangsa yang besar.

Untuk itu, SKK Migas menggandeng PT. Pertamina EP Asset 3 untuk memberdayakan masyarakat di Subang dan Indramayu dalam program Corporate Social Responsibility (CRS). Saya sendiri berkesempatan melihat langsung kegiatan pemberdayaan tersebut. Saya sebagai orang Indonesia saja baru tahu ada warisan budaya yang begitu unik dan memiliki daya jual di dua daerah tersebut. Tanpa campur tangan SKK Migas dan dunia usaha seperti Pertamina, rasanya kebudayaan kita semakin tergerus oleh pengaruh asing yang menghilangkan identitas kita sebagai bangsa yang besar.

Rumah Inspirasi Subang

Hawa panas langsung menyergap saat pintu mobil dibuka. Kulit pipi merasakan hembusan udara khas pantai utara Jawa. Kabupaten Subang yang berada di Tatar Pasundan, Jawa Barat, memang berbatasan langsung dengan Laut Jawa di utara. Namun, suasana langsung berubah saat mendengar sayup dentingan gamelan.

Setelah berjalan sekitar 100 meter, beberapa anak dengan seragam merah-hijau tengah mengambil ancang-ancang. Saat kami, rombongan kaum muda penggiat sosial media, masuk ke pelataran, anak-anak tersebut langsung memberikan aksinya. Sambil membawa boneka singa yang ditandu mereka tampak profesional meliuk di tengah terik matahari.

Tarian yang dibawakan anak-anak SD 2 Dangdeur ini disebut dengan Sisingaan atau Gotong Singa, yakni salah satu seni pertunjukan rakyat khas Subang yang menggunakan media tandu

Setelah selesai, berikutnya tampil tarian merak yang dibawakan 3 orang gadis muda. Entah sejak berapa jam yang lalu mereka bersiap, tetapi kostum dan make up menunjukkan totalitas mereka dalam menghargai setiap tamu yang hadir. Inilah wujud nyata budaya kita yang patut dijunjung tinggi.

Tarian yang dibawakan anak-anak SD 2 Dangdeur disebut dengan Sisingaan atau Gotong Singa, yakni salah satu seni pertunjukan rakyat khas Subang yang menggunakan media tandu. Sisingaan, yang mirip dengan Reog Ponorogo itu, menceritakan sukacita perjalanan pengawal setia raja Singa Barong dari Kerajaan Lodaya yang mengadakan perjalanan menuju Kerajaan Daha. Sedangkan Tari Merak yang dipersembahkan anak-anak SMK merupakan sebuah tarian yang telah menjadi ikon Jawa Barat.

Tari Merak yang menjadi kebudayaan Subang ditampikan secara apik di hadapan kami.

Kegiatan tarian ini merupakan salah satu bentuk dari salah satu program Rumah Inspirasi Subang yang dibimbing oleh PT Pertamina EP Asset 3 Subang Field, yakni Program Sanggar Inspirasi (SARI). Program ini memayungi semua kegiatan pemberdayaan berbasis budaya seperti tarian, perpustakaan, taman baca, pos bindu lansia, dan pojok inspirasi, dan Dangdeur English Club gratis dengan membawa sampah.

Sedangkan program keduanya adalah Bank Roentah Inspirasi (BROERI), yang memberi fokus pada pengolahan sampah organik dan anorganik, termasuk di dalamnya adalah bank sampah. Sampah organik dikumpulkan dan diolah menjadi biogas dan bioslurry untuk pupuk organik cair. Untuk bank sampah, dari 150 orang nasabah sekarang setelah 3 tahun Rumah Inspirasi berdiri sudah ada 3.500 orang.

“Semua sampah dimanfaatkan, tidak ada yang dibuang. Sampah juga diolah menjadi barang-barang kerajinan dan dijual bersama makanan olahan. Kami juga sudah berbadan hukum koperasi,” kata Manajer Rumah Inspirasi Subang, Yogi Burhanudin.

Rumah Inspirasi Subang yang salah satu kegiatannya adalah mendaur ulang sampah.

Dalam mengelola sampah, tutur Yogi yang juga adalah anggota polisi, lembaga yang dipimpinnya memberdayakan banyak pihak. Dari anak-anak diminta untuk mengumpulkan sampah, terutama saat datang les bahasa Inggris. Ibu-ibu diajak dan dilatih untuk membuat berbagai macam barang kerajinan seperti berbagai macam tas dan sepatu.

Kaum muda seperti karang taruna, gelandangan, mantan penjahat dan pemakai narkoba dirangkul untuk berkarya. “Tidak apa-apa kami disebut masyarakat sampah. Tugas saya adalah membina masyarakat sampah ini supaya tidak menjadi sampah masyarakat,” tuturnya.

Di tengah kunjungan, kami dijamu makan siang. Tampilannya seperti makan pramanan kondangan. Menu tersaji lengkap, berbagai sayur, lauk, lengkap dengan hidangan penutup. Rasanya super. Terlebih, semua makanan yang dimasak kelompok ibu-ibu Sukaseuri ini menggunakan biogas dari sampah yang dikumpulkan.

Buah dari kerja keras ini adalah Adipura. Lebih dari 20 tahun Kabupaten Subang tidak mendapatkannya, tetapi pada tahun 2017 berhasil meraih penghargaan yang diberikan kepada kota yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaaan. Kiranya, apa yang dilakukan oleh Rumah Inspirasi Subang yang didorong oleh SKK Migas menjadi salah satu faktor capaian ini.

Tari Topeng Indramayu

Pengalaman begitu berkesan di Subang kami bawa saat bermalam di Cirebon. Hari pertama kegiatan bertajuk Ngopi Ngegas bertema “Migas Pahlawan Bangsa” ini membawa energi untuk aktifitas kami keesokan harinya. Hari kedua, kami mampir untuk melihat sedikit suasana PT. Pertamina EP Asset 3 Jatibarang Field. Kemudian perjalanan berlanjut ke Sanggar Tari Mimi Rasinah yang terletak di desa Pekandangan, kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Kembali kami disambut dengan hawa khas Pantura yang memang Kabupaten Indramayu ini terletak di bagian utara provinsiJawa Barat yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Namun demikian, Indramayu yang berasal dari nama Nyi Endang Darma Ayu itu kental dengan warisan budayanya. Satu di antara pusat budaya yang kami kunjungi adalah Sanggar Tari Mimi Rasinah.

Sedikit suasana PT. Pertamina EP Asset 3 Jatibarang Field

Mimi Rasinah merupakan maestro Tari Topeng yang menjadi cikal bakal Sanggar Tari Mimi Rasinah. Awalnya, Tari Topeng hanya ditarikan oleh laki-laki, sedangkan para perempuannya mendalami Tari Ronggeng. Lantaran Tari Ronggeng begitu dekat dengan tarian menggoda lawan jenis, maka bapak Rasinah mengajarkannya Tari Topeng.

Dalam perjalanan waktu, Tari Topeng dibungkam oleh para penjajah. Selain itu, pengusaha orde baru juga memantau perkembangan tarian ini karena dituduh dekat dengan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Puluhan tahun Tari Topeng “tidur” bersamaan dengan “dikuburnya” ratusan topeng, sebelum akhirnya “ditemukan” kembali oleh dosen STSI Bandung pada tahun 1994.

Sejak saat itu, Tari Topeng berusaha untuk bangun kembali, bergeliat dan eksis di jagat kesenian dunia. Tidak mudah memang untuk tampil kembali. Tetapi Aerli Rasinah (33), cucu yang juga penerus Mimi Rasinah, telah memberikan bakti hidupnya pada kesenian yang membawanya tampil di banyak negara. Energi Sang Maestro tampak merasukinya saat tampil di panggung. Enerjik, berwibawa, dan menyihir setiap mata yang menatap pesona dari tiap gerak tubuhnya.

Sanggar tari tidak hanya mengajarkan tarian, tetapi juga kesenian pendukungnya yaitu musik gamelan dan pembuatan topeng itu sendiri. Tari Topeng bak sebuah tubuh yang hanya bisa bergerak sempurna jika didukung oleh alunan gamelan dan topeng yang bagus. Saling bergantung satu sama lain.

Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah

Saat kami datang, ada banyak aktifitas terjadi. Di panggung ada banyak anak-anak yang menari topeng dengan sangat luwes dan penuh greget. Ada juga tarian yang dipersembahkan oleh 3 perempuan penghuni lapas. Tarian diiringi oleh gamelan yang dimainkan oleh kolaborasi anak-anak dan para senior. Di satu pojok ada pembuat topeng yang beberapa di antaranya juga penghuni lapas. Sedangkan pojok yang lain ada kelompok ibu-ibu menjajakan souvenir sanggar yang terdiri topeng, gantungan kunci topeng, kain batik dan mangga indramayu.

Aerli menyadari bahwa sebagai penerus Mimi Rasinah, ia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian warisan khas Indramayu ini. Harapannya sederhana, supaya tarian ini diterima oleh banyak kalangan dan selalu ada anak muda yang belajar Tari Topeng. “Bagi saya, yang penting memperkenalkan Tarian Topeng terlebih dahulu. Yang dulunya tidak tahu, sekarang sudah tahu.”

Menurut Aerli, harapan ini sudah terwujud berkat bantuan SKK Migas dan Pertamina khususnya PT. Pertamina EP Asset 3 Jatibarang Field. Saat ini Tari Topeng sudah masuk ke sekolah-sekolah untuk diajarkan. Tidak kurang dari 300 anak dari sebelas desa telah mendapatkan pelatihan. “Kita perkenalkan dari usia dini. Jadi tidak harus orang tua mendorong-dorong. Ini sudah berjalan 2 tahun. Pelatihannya gratis, kostum juga gratis. Mereka sangat diuntungkan sekali.”

Baca Juga: Rumah Rengasdengklok, Sekali Lagi Negara Alpa!

Tidak hanya di sekolah-sekolah, pelatihan juga masuk ke Lapas Indramayu yang menjalin kerja sama dengan sanggar. Penghuni lapas juga diajarkan memuat topeng, yang hasilnya akan dijual dan menjadi sumber pendapatan mereka. Harapannya, agar setelah keluar dari lapas mereka memiliki keahlian seni kreatif yang dapat digunakan sebagai mata pencaharian.

Tidak mudah memang dalam membuat topeng. Menurut Kano (38), hanya ada 3 orang termasuk dirinya yang bisa dibilang mahir dan masih sanggup berkarya. Dia sendiri baru menekuni dunia ini sejak 2009. Sebelumnya ia adalah pemain gamelan yang mengiringi Tari Topeng.

Sebagai pembuat topeng, ia berharap ada banyak generasi muda mengikuti jejaknya. Menurutnya ada banyak yang tertarik, tetapi tidak memiliki alat. Untuk itu ia berharap ada pihak yang mau membantunya menyediakan perlengkapan membuat topeng sehingga warisan budaya ini tetap terjaga

“Ini soal ekonomi. Saya tidak sanggup. Kerja seperti ini upahnya seperti buruh, tetapi enaknya saya tidak perlu cari kerja. Pembeli datang sendiri. Saya bersyukur sekali,” ungkap Kano.

Saya melihat situasi sanggar sudah cukup mewadahi beragam kegiatan, entah untuk latihan, pentas, maupun menyambut tamu. Inilah salah satu bentuk nyata sumbangan pemberdayaan masyarakat dari SKK Migas dan PT Pertamina EP Asset 3 Jatibarang Field.

Menjadi Masyarakat yang Berdaya

Indonesia khususnya Subang dan Indramayu telah sejak lama membentuk kelompok masyarakat. Salah satu buktinya, di wilayah Kabupaten Subang telah ditemukan kapak batu di berbagai tempat yang membuktikan keberadaan kelompok masyarakat pada masa prasejarah. Sejarah telah membutikan bahwa kebudayaan di Indonesia mampu hidup secara berdampingan, saling mengisi, dan ataupun berjalan secara paralel.

Inilah keberagaman budaya yang perlu dijunjung tinggi oleh semua masyarakat. SKK Migas memiliki peran strategis dalam banyak program pemberdayaan, khususnya di Rumah Inspirasi Subang dan Sanggar Tari Mimi Rasinah. Namun demikian, masyarakat sendirilah yang harus mengambil perannya. Karena program pemberdayaan yang dilakukan berjalan di atas rel kesetaraan, partisipasi, keswadayaan atau kemandirian, dan berkelanjutan.

Semoga ke depan, setiap masyarakat yang mendapatkan program pemberdayaan dapat menjadi masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi maupun sosial, seperti kepercayaan diri, menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.

Hasil akhirnya adalah masyarakat Indonesia tetap bersatu padu, walau memiliki ragam budaya yang tidak dimiliki negara lain di manapun. Juga merasa bangga menjadi bagian dari Negara Kesatuan Bangsa Indonesia.

View this post on Instagram

Mimi Rasinah atau Ibu Rasinah (1930-2010), adalah maestro Tari Topeng Cirebon kelahiran Indramayu. Tarian ini sempat mengalami pasang surut, sampai kini diteruskan oleh cucunya, Aerli Rasinah. Menurut sejarahnya, Tari Topeng tampil di Kerajaan Cirebon. Maka tidak mengherankan, seniman Tari Topeng sejahtera karena mendapat bayaran dari kerajaan. . Keadaan berubah saat penjajah datang. Seniman Tari Topeng tidak lagi dibayar kerajaan, maka mereka keliling kampung untuk menggelar pertunjukan. Pada periode ini, ada banyak kelompok tari bermunculan di desa-desa. Mereka menghibur warga sekaligus mempertahankan kebudayaan dan memenuhi kebutuhan ekonomi. Keadaan kembali berubah saat Jepang masuk ke Bumi Nusantara. Jepang menilai, rombongan Tari Topeng pimpinan ayah Mimi Rasinah tidak hanya berkesenian tetapi sekaligus menjadi mata-mata. Akibatnya, sebagian topeng dihancurkan. Untungnya ada sebagian bisa diselamatkan sampai sekarang. Sebagian usia topeng itu mungkin sudah lebih dari 100 tahun. Nasib penari topeng semakin suram pasca kemerdekaan. Mereka terpaksa pensiun karena kegiatan mereka identik dengan Lekra, lembaga yang berafiliasi ke PKI. . Selama bertahun-tahun Mimi Rasinah hanya bermain gamelan mengiringi pertunjukan sandiwara suaminya. Sampai pada 1994, aura Tari Topeng menyihir dosen STSI Bandung. Sejak saat itu, Rasinah bangkit dan kembali mengalungkan selendang serta mengenakan topengnya. Mulai sekitar tahun 2004, Rasinah bersama Aerli sudah keliling dunia untuk menampilkan Tari Topeng dalam pertunjukan maupun workshop. Ke depan, kesenian ini perlu regenerasi. Aerli sadar akan hal itu, maka ia beberapa tahun ini mengajarkan Tari Topeng ke sekolah-sekolah. . Aerli melakukan terobosan dengan mengajari Tari Topeng dan membuat topeng kepada para narapidana Aerli melakukan terobosan dengan mengajari Tari Topeng dan membuat topeng kepada para narapidana. . “Kami ingin memanusiakan manusia,” ujar Aerli. . Video lebih lengkap silahkan mampir di Channel Youtube : Fransalchemist . Artikel lengkap ada di website www.fransalchemist.com. #mimirasinah #sanggartarimimirasinah #aerlirasinah #taritopeng #SKKMigas #kompasiana

A post shared by Agung Setiawan (@fransalchemist) on

Facebooktwitterby feather
wawan
Tanpa rokok, kopi saya menenteramkan nalar dan hati. Sembari terus menggulat di bidang komunikasi. Dulu menulis, lalu belajar fotografi dan kini bermain dengan videografi. Semua dijalani karena panggilan dan semangat berbagi. Terima kasih untuk atensinya, Tuhan memberkati.
https://www.onetimes.id

Leave a Reply

Top