Resep Macaroni Schotel Warisan Oma

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Indonesia adalah negara besar yang memiliki banyak ragam kuliner. Dibentuk dari banyak budaya, kuliner Indonesia terkenal dengan cita rasa yang menggiurkan. Kali ini, kuliner yang akan saya sorot adalah macaroni schotel. Istimewanya, macaroninya adalah resep dari Oma Leony.

Sejak lama saya bertanya-tanya, makaroni kan dari Italia, tapi kok schotel yang adalah kata Belanda. Apakah makanan ini ada hubungannya dengan Belanda yang lama menjajah Indonesia? Apakah ada sentuhan Indonesia di sajian yang tampaknya “makanan londo” ini?

Dari literatur yang saya baca, benar saja, schotel berarti hidangan dari bahasa Belanda. Kata schotel dekat dengan kata schaal yang berarti wadah, pinggan, atau mangkok. Kata schaal tidak asing bagi kami, karena Oma Leony menyebut pinggan kaca untuk memasak makaroni schotel dengan sebutan schaal. Dengan demikian, macaroni schotel menunjuk pada hidangan macaroni yang dimasak/ disajikan dalam schaal.

Baca Juga: Inilah Kuliner Legendaris Bantul Versi Pemda Bantul

Macaroni schotel juga dikenal di banyak negara dengan varian penyebutan, yakni imqarrun, pudding, casserole, frittata, makaronilaatikko, dan lainnya. Bagi negara-negara di Eropa Utara yang menyebut macaroni casserole, menjadikan macaroni schotel sebagai makanan pokok. Bahan dan cara masaknya mirip, yakni terdiri dari campuran telur, susu, daging, sayuran, ikan, keju dan remah roti untuk taburan. Masaknya dipanggang.

Di negara Finlandia dan Swedia, macaroni schotel menjadi hidangan tradisional yang sangat populer. Orang Finlandia menyebutnya makaronilaatikko sedangkan di Swedia disebut makaronilåda. Sedangkan di Malta disebut imqarrun, yang bahan tambahannya di sana ada hati ayam, telur rebus, kacang polong dan bacon.

3 Keistimewaan Macaroni Schotel Oma Leony

Di Indonesia, macaroni schotel cukup populer. Variannya pun banyak. Namun, bahan pokok yang selalu ada di masakan ini adalah macaroni, daging asap, telur, keju dan susu cair. Sedangkan bahan tambahannya bisa bermacam-macam, seperti sosis, tuna, kornet atau daging cincang, bawang bombay, bawang putih, biji pala, atau bahkan ada yang memakai kentang.

Bagi yang kreatif, sah-sah saja membuat varian macaroni shotel. Ini jugalah yang membuat kuliner kita sangat kaya.

Kami beruntung memiliki Oma Leony yang memiliki resep macaroni shotel yang ia dapatkan secara turun temurun. Di momen spesial seperti natal atau imlek, Oma Leony yang saat ini berusia 81 tahun membuat macaroni schotel.

Bahan dasarnya sama, yakni macaroni, telur, daging asap, susu cair, dan keju. Menurut saya, ada 3 poin yang membuat macaroni schotel Oma Leony ini menjadi spesial. Pertama, macaroninya yang panjang, bukan macaroni pendek atau jenis pasta lain yang pendek, seperti canchiglie, ditalini, atau farfalle. “Kalau pakai yang panjang, saat nanti sudah matang dan dipotong, bentuknya bagus, seperti sarang lebah,” kata Leony.

Tampilan macaroni schotel saat dipotong. Bagus kaaannn.. Foto: Cynthia Iskandar

Kedua, daging asap atau smoked beef yang dipakai adalah bacon atau gading asap babi yang dibeli di kawasa Kota Tua Jakarta. Menurut pengalaman, memang rasa dan aroma bacon lebih enak dan wangi dari daging api asap. Tapi tentu, kalau ingin yang halal, silahkan ganti dengan daging sapi asap.

Ketiga, kejunya ada 2 jenis, keju cheddar dan keju edam. Komposisinya keju cheddar lebih banyak dari keju edam, karena keju edam harganya lumayan mahal, hehehe… Keju cheddar yang sangat familiar kita dengar ini berasal dari Desa Cheddar di Inggris. Sedangkn keju edam berasal dari Belanda. Edam sendiri merupakan nama daerah di Belanda Utara.

Resep Macaroni Schotel

Jadi bahan yang perlu disiapkan untuk membuat macaroni shotel oma Leony ini adalah:

  1. Macaroni panjang 100 gr
  2. Telor ayam 1/2 kg
  3. Daging asap 250 gr atau sesuai selera
  4. Susu segar cair kira-kira 250 ml
  5. Keju cheddar sesuai selera, diparut
  6. Keju edam sesuai selera, diparut
  7. Garam dan lada secukupnya
  8. Biji pala diparut secukupnya
  9. Mentega untuk mengolesi schaal
  10. Minyak sayur untuk merebus macaroni

Langkah pertama adalah rebus macaroni dengan menambahkan sekitar 2 sendok makan minyak sayur. Sembari itu, siapkan schaal yang telah diolesin mentega.

Macaroni jangan direbus terlalu lembek. Setelah ditiriskan, macaroni disusun memanjang ke dalam schaal. Susun secara rapat.

Lapisan berikutnya diisi dengan irisan daging asap. Lakukan sama dengan macaroni, disusun secara rapat. Kalau mau buat versi hemat, boleh juga susunan daging asalnya dibuat renggang.

Macaroni schotel siap disantap sampai ludessss. Foto: Cynthia Iskandar

Setelah macaroni dan daging asap, berikutnya adalah menaburkan keju. Keju cheddar dan edam yang telah diparut dicampur jadi satu. Sama seperti sebelumnya, taburan keju dibuat rapat.

Ulangi lagi, mulai dari macaroni, daging asap, dan keju sampai penuh. Sisakan area kosong dari permukaan schaal sekitar 1 cm karena masih ada bahan lainnya. Setelah penuh, berikutnya adalah menuangkan telor yang sudah dikocok. Tambahkan garam, lada dan parutan pala. Rasakan dan koreksi rasa. Terakhir adalah tambahkan susu cair sampai semua bahan tertutup.

Selama kita membuat adonan macaroni schotel, panaskan oven. Setelah adonan siap, masukkan ke dalam oven, panggang dengan suhu 125 derajat selama 2 jam. Untuk lamanya tergantung dari jenis oven dan besarnya adonan yang kita buat. Ada baiknya untuk koreksi kematangan dengan melihat macaroni kita sudah kering atau belum.

Jika sudah kering, baik sisi bawah maupun atas, macaroni shotel sudah siap untuk dikeluarkan dari oven. Momen yang paling ditunggu, menurut saya, adalah saat memotong macaroni schotel. Bentuk potongannya seperti yang telah disebut di atas, seperti sarang lebah. Indah dan tentu semakin menggugah selera untuk segera menghabiskannya.

Selamat mencoba yaaaa…

Facebooktwitterby feather
wawan
Tanpa rokok, kopi saya menenteramkan nalar dan hati. Sembari terus menggulat di bidang komunikasi. Dulu menulis, lalu belajar fotografi dan kini bermain dengan videografi. Semua dijalani karena panggilan dan semangat berbagi. Terima kasih untuk atensinya, Tuhan memberkati.
https://www.onetimes.id

Leave a Reply

Top