Misteri Bunker dan Kamar Nonik Ratusan Tahun di Lasem

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Saya senang dengan budaya dan kesenian. Rumah kuno yang terawat, apalagi dengan bawaan aslinya, bagi saya warisan budaya dan kesenian yang lengkap.

Di sanalah tergurat filosofi, budaya, kesenian, cara hidup, nilai dan norma bahkan ada “sesuatu” yang dapat dirasakan secara naluri. Rumah Merah Lasem adalah salah satu rumah kuno yang berhasil menggeret saya masuk pada Mei 2019.

Saya bersama keluarga berkesempatan mengunjungi Rumah Merah yang beralamat di Jalan Karangturi No.4/7, Karangturi, Lasem, Jawa Tengah pada Mei 2019 silam.

Bagian depan Rumah Merah Lasem atau sekarang disebut Tiongkok Kecil Heritage.

Warna merah sudah membuatnya mentereng dari lingkungan sekitar. Belum lagi, 2 pilar di depan rumah yang begitu megah. Kayu-kayu jati tampak bergurat asli, menjadi saksi bisu kedatangan bangsa China di tanah Jawa.

“Rumah ini bergaya Hindia China,” kata pemandu kepada kami.

Kalau kita berjalan masuk dari depan, paduan Hindia China itu tampak dari 2 pilar besar yang menyangga rumah. Padahal, untuk menyangga rumah dengan gaya China cukup dengan batang kayu. Hal itu tampak di bagian rumah lainnya, di mana kayu jati besar memasak bumi telah berhasil menjaga rumah berdiri kokoh ratusan tahun. “Dua pilar itu, bergaya Eropa (Hindia),” sambung pemandu.

Oven untuk membuat roti yang diyakini sama dengan di Eropa. Karena bangunan tempat oven ini berada mengadopsi rumah bergaya Eropa.

Di depan pilar, berdiri dua patung besar setinggi sekitar 5 meter. Kalau melihat bentuknya, saya yakin mereka adalah Dewa Pintu yang dalam trandisi Tiongkok disebut Men Shen. Menurut keyakinan, Men Shen ditaruh berhadapan satu sama lain di setiap pintu masuk supaya roh jahat tidak berani masuk.

Sedikit ke dalam, kita kembali disajikan budaya Tiongkok yang sarat makna. Ada pintu yang masing-masing dilengkapi aksara China yang berisi filosofi kehidupan.

Di sana tertulis, “Melantunkan syair, menjalankan tata susila, guna mendidik anak cucu.” Juga ada, “Kesetiaan, bakti dan kerendahan hati membuat negara tenteram.”

Lihatlah, nasihat dan didikan dalam keluarga mengarah pada hal yang lebih luas, yakni negara. Dengan kata lain, jika ingin negara kita besar-kuat-makmur, maka mulailah bangun hal itu dari keluarga-keluarga.

Untuk pintunya sendiri tampak biasa. Namun di atasnya ada ukiran seperti matahari yang bersinar dan anak panah keluar sebanyak 12. Itu juga punya filosofinya.

Matahari itu sebenarnya adalah Bunga Teratai yang menunjuk pada Pencipta. Sedangkan dua belas anak panah itu simbol pancaran kehidupan yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada semua orang, yang diwakili oleh 12 Shio dan 12 mata angin yang berarti memancar ke seluruh alam semesta.

Menurut keterangan pemandu, Rumah Merah berdiri pada tahun 1860. Artinya, di tahun 2020 ini Rumah Merah sudah berumur 160 tahun! Menurut catatan sejarah yang dituliskan oleh Kesemsem Lasem, rumah ini telah masuk dalam peta Lasem yang bertarikh 1886. Cukup masuk akal!

Baca Juga: Catatan Sejarah Klenteng Tertua Di Jawa Justru Ada Di Belanda

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, rumah kuno itu menarik karena punya warisan yang lengkap. Di bagian belakang rumah masih ada bagian yang masih asli atau apa adanya, menunggu sentuhan untuk direkonstruksi. Ruangan pertama yang cukup lama kami singgahi untuk menggali informasi adalah bagian produksi kain batik dan dapur.

Di situ masih ada bak-bak dan jemuran untuk membuat batik. Juga berbagai alat mambatik yang semuanya belum tertata baik. Di bagian dinding ada infografis yang menjelaskan sejarah dan penjelasan tentang Batik Tiga Negeri yang telah saya sampaikan dalam artikel sebelumnya, dan ada juga di Channel YouTube saya.

Satu lagi yang menarik di ruangan itu adalah tungku pembuatan roti. Pemandu mengklaim bahwa tungku ini sama dengan di Eropa. Untuk saat ini belum bisa diapa-apakan karena tidak punya referensi untuk merekonstruksi seperti aslinya. Ini merupakan pengaruh Eropa lain yang ada di rumah merah ini.

Rumah yang Menyimpan Misteri

Kesan misteri tidak pernah lepas dari rumah kuno. Bukan hanya misteri dari banyaknya perabotan atau filosofi yang tidak diketahui asal-usulnya, tetapi juga terkait auranya.

Ada 2 ruangan yang menurut saya sangat misterius. Pertama adalah salah satu kamar yang memiliki bunker. Sebelum membahasnya, saya mau bahas dulu yang kedua yakni, Kamar Nonik.

Kamarnya tidak jauh dari tempat pembuatan batik. Di sudut kamar tertulis “Rekonstruksi Kamar Nonik.” Langkah pertama saja sudah membuat bulu kuduk merinding. Apalagi saat itu pas banget magrib, soalnya kelamaan mendengar penjelasan soal Batik Tiga Negeri.

Bayangan akan Nonik, panggilan untuk anak kecil perempuan Tionghoa, melintas di memori seiring saya mengambil gambar obyek dan ruangan.

Bayangan dia mulai dari bayi tergambar saat ia tergolek di ayunan bayi dari rotan yang masih kuat. Ketika mulai remaja, dia punya baju brukat putih terlipat dan dress biru yang tergantung di pojokan ruang. Tempat pup duduk dari kayu pun ada. Pasti itu barang mewah di zamannya.

Satu benda lagi yang menarik perhatian adalah contoh gambar batik di kertas yang dipigura. Selembar kertas yang digambar 3 motif batik itu diyakini berusia sekitar 150 tahun!!!

Selembar kertas yang digambari motif batik Lasem yang umurnya diperkirakan 150 tahun. Ada banyak PR untuk peneliti membedah warisan ini.

Ada banyak pertanyaan yang memerlukan penelitian lebih lanjut, seperti bahan kertas dan pewarna apa yang bisa awet selama itu? Lalu pensil warna yang digunakan seperti apa karena mata pinsilnya begitu tipis untuk bisa membuat detail motif batik. “Rencana kita mau ada penelitian,” kata pemandu sambil memegang pigura motif batik.

Nah berikutnya saya mau bahas satu kamar di Rumah Merah yang juga misterius. Setidaknya bagi kami yang merasakannya. Kamar itu tampak seperti biasa, sampai si pemandu mengajak kami masuk ke bunker!
Ya, di ujung tempat tidur ada pintu bunker, yang dalamnya hanya sekitar 160 cm, karena saya sendiri tidak bisa berdiri tegak. Harus menunduk sambil menyenderkan badan ke tembok. Ada tangga sempit untuk masuk ke dalamnya.

Setelah menuruni tangga dari lubang berdimesi 100 cm x 100 cm, kami berada di ruangan bunker berukuran sekitar 150 cm x 300 cm. Kecil dan berasa sesak selama berada di dalam.

Suasana di kamar nonik yang menyimpan suasana mistis yang gimana gitu. Gak kalah dengan suasana bunker!

Ruangan tersebut merepresentasikan dulunya Rumah Merah berfungsi sebagai rumah candu. Bunker yang terhubung dengan pintu luar, menjadi jalur masuk-keluar candu yang kala itu menjadi barang dagangan yang menggiurkan.

Candu yang didatangkan dari China jadi komoditi legal sekaligus illegal karena permintaannya sangat tinggi. Maka tak heran, banyak warga Lasem yang mayoritas dihuni kaum Tionghoa bergerak di bisnis ini. Namun Belanda mengambil hak monopoli perdagangan candu mulai 1880 dan 1894 lewat Regi Opium Hindia Belanda. Dampaknya adalah kaum Tionghoa Lasem banting setir ke bisnis lain, salah satunya adalah masuk ke industri kain batik tulis.

Menurut saya, kesan mistis di kamar berbunker itu tak lepas dari aura candu yang memang tidak baik. Suatu benda yang tidak baik akan bersinggungan dengan banyak hal negatif lain, termasuk mempengaruhi perilaku orang yang ada di sekitar barang haram tersebut.

Sudah selesai membicarakan yang mistis-mistis. Sekarang kembali ke Kamar Nonik. Nah, di sebelah Kamar Nonik, ada dapur. Ini juga masih belum tertata, masih apa adanya.

Tapi tampaknya peralatan memasak lengkap di sana, ada tungku masak yang dijadikan sebagai kompor berbahan kayu bakar, berbagai panji dan wajan dari tanah liat/ tembikar, tempat bumbu, dan beragam peralatan makan. Untuk tungku sendiri, saya melihat di beberapa rumah di Lasem masih mempertahankannya sampai sekarang.

Dapur di sebelah kamar nonik yang masih asli dan apa adanya.

Terakhir kami diajak ke tempat lain yang juga rumah kuno yang tengah direnovasi. Rumah tersebut sebenarnya terpisah dengan Rumah Merah, tetapi karena dibeli oleh orang yang sama, maka dijadikan satu kompleks. Sejak 2016, rumah ini dan Rumah Merah dijadikan tempat menginap bagi para wisatawan.

Belakangan kompleks ini dikenal dengan Tiongkok Kecil Heritage, yang saat ini telah menjadi tempat beragam kegiatan. Selain tempat menginap, di sini juga ada Omah Batik, Museum Batik Tiga Negeri serta kafe bergaya Tiongkok.

Facebooktwitterby feather
wawan
Tanpa rokok, kopi saya menenteramkan nalar dan hati. Sembari terus menggulat di bidang komunikasi. Dulu menulis, lalu belajar fotografi dan kini bermain dengan videografi. Semua dijalani karena panggilan dan semangat berbagi. Terima kasih untuk atensinya, Tuhan memberkati.
https://www.onetimes.id

Leave a Reply

Top