Mencoba Ritual dan Belanja Kalap ke Kuil Sensoji Asakusa

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Kata orang, bagi yang baru kali pertama ke Jepang, salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah Kuil Sensoji. Sehari sebelum meninggalkan Jepang kami pun nekat pergi ke kuil yang terletak di Asakusa itu. Petualangan yang seru dan semua souvenir yang kami inginkan, ternyata didapatkan di sana.

Sekitar 10 hari kami di Jepang. Tujuan pertama adalah ke Sapporo, Hokkaido. Kemudian kami menginap di Shinjuku beberapa hari sebelum balik Jakarta. Pada 6 Oktober 2017, Sari dan saya pisah rombongan. 4 orang lain pergi ke daerah yang bagi kami tidak menarik. Kami pun memutuskan untuk pergi ke Asakusa.

Bagi kami ini perjalanan nekat, karena ini perjalanan pertama di Jepang dan selama di sini kami hanya ngikut aja sama yang lain. Secara mereka udah beberapa kali trip ke Negeri Sakura ini.

Baca Juga:  Yeayy, Ulang Tahun Di Jepang!

Singkat cerita, kami memantapkan diri menuju Stasiun Shinjuku berbekal Google Maps. Ada dua pilihan transportasi, pertama menggunakan kereta api dengan biaya 340 Yen atau kalau ingin lebih cepat sedikit menggunakan taksi dengan ongkos yang juga cepat, sekitar 3.500 Yen. Soalnya di Jepang, kendaraan harus patuh pada batas kecepatan sekalipun jalanan kosong.

Kami tentunya memutuskan menggunakan kereta. Murah meriah!!! Fyi, Stasiun Shinjuku bukan stasiun sembarangan. Prestasinya bertumpuk, salah satunya tercatat dalam Guinness World sebagai stasiun dengan penumpang rata-rata terbanyak dalam sehari di dunia. Untung perginya di luar jam berangkat kantor, jadi tidak terlalu padat dan masih bisa duduk leluasa di kereta.

Warga Jepang di Asakusa sudah biasa menghadapi wisatawan, jadi mereka ramah. Ini adalah tukang becaknya sono ya, keren hahaha

Tidak ada jalur langsung menuju Asakusa. Dari Stasiun Shinjuku naik Kereta JR Chuo Line, transfer di Kanda, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan Tokyo Metro Ginza Line. Setelah sampai di Stasiun Asakusa, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki sedikit, sekitar 100 meter.

Turun dari kereta, suasana Kuil Sensoji sudah terasa kental. Lampion merah yang menjadi ciri menonjol kuil tertua di Jepang itu sudah menghiasi beberapa sudut stasiun. Penduduk lokal juga tampak ramah, tersenyum dan tak sungkan bergaya saat kamera saya membidik. Mungkin mereka sudah terbiasa dengan para wisatawan yang datang tiap hari.

Karena hari sudah siang, kami mampir Family Mart. Toko ini dan toko sejenis menjadi andalan kami untuk mengisi perut. Selain makanannya jelas, juga murah meriah. Kalau udah masuk restoran, minimal satu orang menghabiskan Rp.150.000. Lumayan mahal ya, mending untuk beli oleh-oleh dong yaaa..

Selfie dulu di tengah keramaian di gerbang utama Kuil Sensoji Asakusa Jepang

Lanjut lagi perjalanan. Walau tidak tahu persis Kuil Sinsoji, tapi kerumunan orang menjadi tanda bagi kami. Mereka berkerumun di sekitar lampion merah untuk sekadar menikmati gerbang yang megah atau juga ber-selfie ria. Kami sendiri susah payah selfi untuk bisa ambil latar belakang lampion.

Dari leteratur yang saya baca, kuil yang juga dikenal Kuil Kannon Asakusa selesai dibangun tahun 645. Menurut legenda, ada dua orang nelayan bersaudara menemukan patung emas Kannon ‘The Merciful Nirvana Achiever’ di Sungai Sumida. Mereka adalah Hinokuma Hamanari dan Hinokuma Takenari, yang kemudian menyerahkan Kannon itu kepada Kepala Desa dan meletakkannya di rumahnya dan kemudian dijadikan kuil kecil. Dengan demikian, penduduk desanya bisa memuja Kannon.

Landmark kuil ini ada pada Gerbang Kaminarimon atau Gerbang Guntur (Thunder Gate) yang di tengahnya ada lampion raksasa berwarna merah. Lampion diapit oleh 2 patung dewa, yakni Fujin (dewa angin) dan Raijin (dewa guntur). Itulah mengapa, nama asli gerbang ini adalah Fujin Raijinmon.

Lampion diapit oleh 2 patung dewa, yakni Fujin (dewa angin) dan Raijin (dewa guntur). Itulah mengapa, nama asli gerbang ini adalah Fujin Raijinmon.
Kuil utama

Di bawah lampion terdapat calving kayu dari naga tradisional Jepang. Gerbang Kaminarimon pernah terbakar, lalu dibangun kembali pada 1960 dengan sumbangan dana dari pengusaha Jepang Konosuki Matsushita. Ia adalah pemiliki perusahaan listrik Matsushita yang sekarang lebih dikenal dengan nama Panasonic. Matsushita jugalah yang menyumbang lampion merah seberat 700kg itu yang ada sampai sekarang.

Surga Belanja

Mata kami tambah terbelalak setelah melewati gerbang yang begitu mencengangkan. Ada banyak toko berjajar yang berada di Nakamise Shopping Street. Toko-toko tersebut ada di sepanjang kanan dan kiri kita menuju pusat kuil. Di sinilah kami menemukan semua barang dan souvenir yang ingin dibeli.

Di sini kami membeli kaos dengan motif Gunung Fuji dan Sakura yang sangat ciamik. Hiasan dinding berupa kain motif Ikan Koi juga kami dapatkan di sini. Selain itu kami juga membeli kipas, gantungan kunci dan banyak lainnya.

Lelah berjalan, kami putuskan membeli makanan. Jujur, kami tidak tahu makanan  apa saja yang dijual secara Bahasa Jepang semua. Pokoknya liat menarik dan banyak yang antri aja, hahaha.. Saya memilih beli camilan yang ditusuk seperti sate. Eh, waktu mau meninggalkan toko, saya dipanggil penjualnya. Dengan bahasa Tarzan, ia memberitahu jangan makan sambil jalan. Jadi saya harus makan di tempat, lalu meletakkan tusuknya di tempat yang telah disediakan. “Mungkin juga biar makannya gak berceceran,” kata saya membatin.

Mulai nih gila belanjaaaa hahaha
Sandal khas Jepang
Kepas menjadi salah satu buruan Sari
Pernak pernik ada buanyak macem dengan variasi harga. Cucok untuk buang tangan dan kaki
Makanan kecil yang kalu beli makannya mesti di TKP, gak boleh jalan-jalan. Tertib loh ya di negeri orang yang mestinya di negara sendiri juga bisa.

Ketika pulang, kami mencoba nakal dengan menyusuri jalan lain. Kami masuk seperti gang di samping toko yang ternyata mengantar kami jalan lain. Di situ juga berjejer toko-toko. Untuk beberapa orang mungkin tidak menyadari bahwa ada toko-toko lain, di luar jalan utama.

Di sini kami belanja lagi. Sari mendapatkan buku agenda dengan desain Jepang dan kertas khas Jepang yang memang sudah sejak lama terkenal. Saya sendiri beli lonceng gantung, untuk koleksi di rumah.

Dalam perjalanan ke stasiun pun masih bisa belanja. Sari beli sepatu kets. Walau made in China, penjualnya meyakinkan bahwa sepatu yang ia jual tetap memenuhi standar Jepang. Ya kami percaya aja, dan ternyata sepatu itu masih dipakai sampai sekarang. Selain sepatu, Sari juga beli kaos kaki motif perempuan tradisional Jepang. Kali ini made in Japan, hehehe

Mencoba Ritual Membersihkan Diri

Selain belanja ada banyak aktifitas bisa dilakukan di sini. Foto-foto itu sudah pasti, hehehe.. Makan minum, yang lainnya. Selain itu, kuil ini kaya akan kekayaan religi dan budaya. Mari kenali, rasakan, dan pahami.

Apakah akan jadi murtad? Berdosa? Saya meyakini selama tidak diimani, ya sah-sah saja. Intinya adalah menghargai keyakinan orang lain, tidak mengganggu, apalagi melecehkan/ merendahkan!!!

Misalnya ada sepasang waraji (sandal jerami) yang terbuat dari 2500 kg jerami. Berada di balik gerbang. Waraji ini melambangkan kekuatan Nio-sama (dewa pelindung) dan merupakan salah satu alat untuk menangkal kekuatan jahat. Simbol yang baik, bukan?

Sepasang waraji (sandal jerami) yang terbuat dari 2500 kg jerami. Berada di balik gerbang.

Hal menarik lain adalah omikuji atau kertas ramalan. Ini adalah salah satu spot teramai. Nah yang cukup menonjol adalah Jokoro atau tempat dupa. Banyak orang berkumpul di sini, yang berada di depan aula utama kuil. Mereka “membasuh” tubuh mereka dengan asap dupa. Konon, jika hal ini dilakukan, diyakii bisa memberikan kesembuhan di saat kita sakit. Saya mencoba ritual ini sebelum masuk ke kuil utama.

Di dalam aula utama Kuil Sensoji, saya hanya mengamati dan mengagumi mereka yang berdoa. Saya sendiri selain mengambil gambar dari jarak jauh, juga berdoa menurut keyakinan saya. Tempatnya memang enak untuk berdoa.

Saya mencoba ritual membersihkan diri dengan “mandi asap.”
Omikuji atau kertas ramalan. Ini adalah salah satu spot teramai.
Berdoa di kuil utama. Saya ikut doa dalam hati dengan tetap menjaga jarak sehingga tidak mengganggu yang lain.

Apalagi jika kita duduk di tamannya. Walau ratusan atau mungkin ribuan orang ada di tempat wisata ini, suasana taman tampak tenang. Air gemericik juga masih terdengar menenangkan. Betah rasanya di tempat ini, udara sejuk, tenang, dan menyegarkan. Menurut info, ada jam buka tutupnya. Hall utama dibuka setiap hari mulai pukul 06.00– 17.00 (di bulan Oktober – Maret dibuka sejak pukul 06.30). Halaman kuil selalu dibuka, tapi mulai sepi setelah jam 17.00 sore. Untuk masuk, tidak dikenakan biaya alias gratis. 

Tamannya juga bagus dan hening, cocok untuk duduk tenang sambil berdoa dalam hati.
Facebooktwitterby feather
wawan
Tanpa rokok, kopi saya menenteramkan nalar dan hati. Sembari terus menggulat di bidang komunikasi. Dulu menulis, lalu belajar fotografi dan kini bermain dengan videografi. Semua dijalani karena panggilan dan semangat berbagi. Terima kasih untuk atensinya, Tuhan memberkati.
https://www.onetimes.id

Leave a Reply

Top